Ikhlas Beramal Menjauhkan Diri Dari Syirik

Ikhlas Beramal Menjauhkan Diri Dari Syirik

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan dalam rangka mencari keridhaan-Nya.”

Hendaklah seorang Muslim, terutama pengemban dakwah, mengetahui bahwa amal salih saja tidak cukup. Seorang Muslim tidak boleh berdiri di hadapan orang banyak dalam rangka menyeru mereka kepada Islam, mengajari mereka hukum-hukum Islam, dan mengemban dakwah kepada mereka jika semua itu dilakukan karena ada suatu keinginan agar mereka menyebut dirinya sebagai orang ‘alim.

Seorang pengemban dakwah dan Muslim mana pun juga tidak boleh menjadi pegawai dalam suatu organisasi atau perusahaan—dengan bekerja secara rajin dan penuh ketaatan—jika semua itu dimaksudkan sekadar untuk memperoleh jabatan atau posisi tertentu dari pimpinannya.

Pengemban dakwah dan Muslim mana pun juga tidak boleh menunaikan shalat di hadapan orang banyak dengan shalat yang panjang, khusyuk, dan konsentrasi penuh –sementara hal itu tidak pernah dilakukannya saat menunaikan shalat sendirian—dengan maksud menampakkan ketakwaan dan kebagusan ibadahnya. Allah Swt tidak akan pernah menerima apa pun dari seorang yang mengeluarkan sedekah jika hal itu dimaksudkan agar dia disebut sebagai dermawan oleh masyarakat.

Semua itu tidak boleh dilakukan kecuali jika semata-mata ditujukkan hanya kepada Allah Swt. Sebab, jika tidak begitu, seorang Muslim atau pengembban dakwah akan terpeleset ke dalam jurang syirik; baik besar maupun kecil, baik yang tersembunyi atau yang jelas. Tindakan syirik tersebut akan menghanguskan seluruh amal yang telah dilakukannya. Dalam hal ini, Abu Umamah al-Bahili pernah menuturkan riwayat sebagai berikut:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Seseorang pernah datang menemui Rasulullah saw. Dan bertanya, “Apa pendapat Anda jika ada seseorang berperang untuk memperoleh upah dan gelar; apa yang akan dia peroleh?” Rasulullah saw, menjawab, “Tidak ada sedikitpun pahala baginya.” Orang tersebut bertanya hal yang sama sampai tiga kali. Akan tetapi, Rasulullah saw.

Tetap menjawab bahwa tidak ada sedikitpun pahala baginya. Beliau kemudian melanjutkan sabdanya, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan dalam rangka mencari keridhaan-Nya.” (HR. An-Nasa’i)

Baca juga: Hukum Membaca Al-Quran dengan Langgam Jawa

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan hadis ini dengan ungkapan :

رَجُلٌ يُرِيدُ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَهُوَ يَبْتَغِي عَرَضًا مِنْ عَرَضِ الدُّنْيَا

Seseorang yang berjihad di jalan Allah namun dia mencari kehidupan dunia…. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Jihad—sebagai puncak amal dalam Islam dan ibadah yang paling tinggi nilainya—tidak akan bermanfaat bagi pelakunya di sisi Tuhan-Nya jika dilakukan disertai dengan tindakan syirik. Hal ini karena Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali dilakukan secara tulus-ikhlas semata-mata karena-Nya semata.

(Syaikh Mahmud Abdul Latif Uwaidhah dalam Hamlu ad-Dakwah al-Islamiyyah Wajibatu wa sifatu (terj: Pengemban Dakwah Kewajiban dan sifat-sifatnya) bab Ikhlas dalam Mengemban Dakwah, Hal. 206-207. [MBS]